History of Maestro

History of Maestro Fico Kaiser

timeline_pre_loader

Pada tahun 1964, Maestro Fico Kaiser, MBA dilahirkan di hari Sabtu, tanggal 13 Juni di kota Gedong Tataan, Lampung. Sebagai anak pertama dari enam bersaudara keluarga Johandes.

Tahun 1979, keluarga Johandes merantau ke Baturaja, Sumatera Selatan. Di Baturaja, Keluarga Johandes membuka toko emas. Sementara itu Fico dikirim ke Yogyakarta untuk melanjutkan studinya di SMA BOPKRI II Yogyakarta, yang letaknya tepat di depan R.S. Bethesda. Usaha toko emas keluarga Johandes di Baturaja, mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan. Tidak hanya menjual perhiasan, tetapi toko itu bahkan juga menerima biji emas hasil penambang yang kemudian diolah menjadi emas murni. Puncak kesuksesan usaha toko emas keluarga Johandes terjadi pada tahun 1981.

Menginjak tahun keempat, atau tepatnya di tahun 1983, usaha toko emas keluarga Johandes mengalami keterpurukan hingga harus ditutup karena bangkrut. Saat itu Fico sudah diterima di Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada. Mengetahui orang tuanya jatuh pailit, Fico terpaksa memutuskan untuk berhenti kuliah. Pupus sudah impiannya untuk menjadi cendikiawan. Fico, anak sulung dari enam saudara ini pulang ke Baturaja. Di usianya yang masih muda, Fico harus memikul tanggung jawab yang demikian besar. Yang terjadi adalah Fico sangat putus asa, hampir gila, bahkan nyaris bunuh diri. Masa ini tercatat sebagai kejatuhan pertama Maestro Fico.

Tahun 1983 - Tercatat sebagai kejatuhan pertama Maestro Fico Kaiser, MBA.

Setelah dua tahun lamanya berusaha, namun peruntungan hidup berjalan di tempat. Di tengah keputusasaan, Fico memutuskan merantau ke Jakarta dengan berbekal tiga jerigen madu murni, meninggalkan Baturaja. Di Jakarta, Fico mengemas ulang madu itu ke dalam botol. Setiap botol diisi dengan sekilo madu murni yang ia hargai Rp.5,000,-. Secara door to door—dari rumah ke rumah, Fico menjajakan madu. Setiap hari dibawanya sepuluh botol madu. Dengan naik bis, disusurinya pasar-pasar di daerah Pasar Pagi Lama, Proyek Senen, Gajah Mada, Jatinegara, Kramat Jati, dan pasar-pasar lainnya.

Setelah Setahun berkeliling menjajakan madu, Fico mulai mendapatkan titik terang. Di tahun 1986, Fico akhirnya berhasil menitipkan madu sebanyak tiga botol di Toko Obat Citra di Proyek Senen—yang kala itu adalah komplek pertokoan terbesar di Indonesia. Hanya dalam waktu satu minggu, tiga botol madu yang diberi merek Sari Bunga Alam telah habis terjual. Fico kemudian menitipkan kembali enam botol madu di toko obat tersebut. Tidak hanya di Toko Obat Citra, ia pun mencoba menitipkan madu Sari Bunga Alam di toko-toko obat yang ada di Proyek Senen. Usaha penjualan madu yang dilakukan Fico berbuah hasil yang menggembirakan. Banyak toko obat yang bersedia menampung madu-madu Sari Bunga Alam, dan tidak sedikit yang melakukan pembelian ulang.

Untuk membesarkan merek madunya, Fico mendirikan PT. Sari Bunga Alam pada tahun 1987. Saat itu, produk-produk madu yang dihasilkan oleh PT. Sari Bunga Alam masih dikerjakan secara manual, di sebuah rumah kontrakan.

Hanya Dalam waktu setahun, Fico berhasil membangun PT. Sari Bunga Alam. Produk olahan rumah tangga ini banyak disukai oleh konsumen. Permintaan pasar semakin meningkat. Dalam waktu setahun tersebut, produksi pun semakin bertambah di setiap bulannya. Hampir semua toko obat di Proyek Senen menjual produk madu Sari Bunga Alam. Tahun 1988, Fico memboyong semua keluarga yang ada di Baturaja untuk tinggal bersamanya di Perumahan Pademangan Permai, di jalan Pademangan IV Gang 32, Jakarta Utara.

Setahun setelah memboyong keluarga besarnya ke Jakarta, usaha penjualan madu yang dilakukan Fico semakin berkembang pesat. Fico mulai menikmati kesuksesannya sebagai pengusaha madu. Sebuah Mercedes Benz Tiger (280 e) lengkap dengan sopir pribadinya, menandai kesuksesannya. Di masa itu, hanya segelintir orang yang mampu memiliki mobil mewah ini, karena harganya paling mahal di antara mobil-mobil lain yang ada di Indonesia kala itu. PT. Sari Bunga Alam pun berkantor di tempat yang cukup megah, dengan lantai berkarpet. Kesuksesan penjualan madu, antara lain dikarenakan promosi yang cukup gencar, dengan membuka stand pameran di event Jakarta Fair, yang digawangi oleh tak kurang dari dua puluh orang sales promotion girls. Bahkan, Fico tak segan menghadirkan pasangan artis terkenal, yaitu Willy Dozan dan Betharia Sonata, dimana penampilan mereka selalu diiklankan di koran setiap harinya.

Keinginan Membesarkan bisnis madu semakin menggelora di hati Fico. Tidak puas dengan omset yang diperoleh, ia ingin melipatgandakan omset yang ada. Maka cara satu-satunya yang bisa ditempuh adalah berkongsi dengan mitra usaha. Dengan berkongsi, Fico berharap usaha madu PT. Sari Bunga Alam semakin melesat. Tetapi usaha perkongsian tersebut meleset jauh dari yang diharapkan. Fico ternyata tidak mendapat kecocokan dengan partner bisnis. Alih-alih omset naik, malah aset makin menurun. Penjualan hanya tinggal 10 persen dari kondisi normal. PT. Sari Bunga Alam jatuh bangkrut. Aset-aset yang ada disita oleh pihak kreditor. Nyaris tak ada yang tersisa. Ini adalah salah satu masa sulit yang paling membekas di hati Fico. Inilah masa kejatuhan kedua dari rangkaian kehidupan Maestro Fico Kaiser, MBA. Roda hidup memang berputar. Tak ada yang pasti. Begitu pun kehidupan Fico. Sewaktu pertama kali ke Jakarta, ia harus naik-turun bus menjajakan madu. Kemudian ia bisa memiliki sedan paling mewah yang dikendarai oleh sopir pribadi. Kini, karena kepailitannya, Fico kembali naik-turun bus. Bahkan ketika sakit pun, ia tak mampu membeli obat.

Tahun 1991 - Inilah masa kejatuhan kedua dari rangkaian kehidupan Maestro Fico.

Tidak ingin terpuruk dalam keputusasaan. Fico mencoba kembali membangun usahanya. Perlahan-lahan ia mulai merintis kembali dengan cara yang sama ketika ia datang pertama kalinya ke Jakarta. Ditabungnya sedikit keuntungan dari penjualan madu. Tahun 1993, Fico memiliki uang sekitar 700 ribu rupiah. Uang sebesar itu digunakan sebagai uang muka untuk membeli secara kredit sebuah sepeda motor bekas merek Honda seharga dua juta rupiah. Sisanya Fico cicil selama dua tahun. Dengan sepeda motor bekas itu, Fico berkeliling Jakarta menjajakan madu. Man Jadda Wa Jadda. Tidak ada usaha keras yang tiada hasil. Setelah bertahun-tahun membangun kembali usaha penjualan madu, di tahun 1999, Fico berhasil bangkit kembali. Saat itu ia tercatat sukses sebagai tiga besar pengusaha madu di Indonesia.

Sukses menjadi tiga besar pengusaha madu di Indonesia, menggerakan hati Fico untuk bisa berbuat lebih baik lagi kepada sesama. Apalagi, saat itu Indonesia sedang mengalami masa reformasi, dimana faktor politik, perekonomian, sosial, dan budaya bergerak begitu cepatnya. Selepas kerusuhan Mei 1998, Fico dan beberapa teman mendirikan sebuah Yayasan Sosial yang membantu orang-orang tidak mampu untuk mendapatkan bantuan. Untuk membiayai operasional yayasan tersebut, dibutuhkan sumber dana, maka Fico mendirikan sebuah Perusahaan Sosial yang diharapkan mampu mensupport yayasan tersebut. Tapi apa daya, Perusahaan yang diharapkan mampu menghasilkan keuntungan, malah mengalami kerugian terus-menerus, dan jumlahnya sampai milyaran rupiah dalam setahun.

Perusahaan kehabisan modal kerja, bahkan untuk membayar iuran keanggotaan APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia) sebesar dua juta rupiah, Perusahaan tak mampu, dan harus mencicil selama enam bulan. FICO KEMBALI mengalami masa-masa sulit. Nyaris tidak ada teman yang membantu. Pihak internal Perusahaan pun tidak memberikan solusi yang terbaik. Bahkan Direktur Operasional Perusahaan kala itu, menyarankan agar menutup perusahaan secepatnya. Sang Direktur mengundurkan diri setelah merekomendasikan para karyawan untuk bekerja di perusahaan lain. Tahun 2001 adalah satu tahun terkelam dalam kehidupan Maestro Fico. Tahun itu dijalani dengan sangat berat. Tidak hanya modal dan aset yang habis, tetapi juga hutang yang menggunung kepada para pemasok. Hal ini membuat Maestro Fico sangat stress!!! Kejatuhan yang Ketiga. Namun, sekali lagi Maestro Fico berhasil melalui semua cobaan itu. Tahun 2002, omset perusahaan kembali merangkak naik. Saat itu Maestro Fico berketetapan untuk pensiun dini. Ia hanya memantau operasional perusahaan secara tidak langsung saja. Maestro Fico pensiun dini dari tahun 2002 hingga 2009.

Tahun 2001 - Masa kejatuhan ketiga Maestro Fico Kaiser, MBA.

Tahun 2004, tercatat menjadi salah satu tonggak kesuksesan Perusahaan sebagai Perusahaan yang bergerak di bidang Perdagangan Langsung.

Tahun itu, Perusahaan melakukan ekspansi besar-besaran. Menambah aset di beberapa tempat, misalnya seperti :

– Membeli kantor senilai sepuluh milyar.
– Membeli pabrik senilai lima milyar rupiah.
– Membeli perkebunan Murbei di daerah Sukabumi yang luasnya puluhan hektar.
– Membeli mobil Jaguar R-Type 5000 cc (satu-satunya di Indonesia).
– Membeli rumah senilai 12,5 milyar rupiah di Blossom Sunter Jakarta.
– Membeli Condominium The Light at Cairnhill, Orchard di Singapura seharga S$ 3,5 JT (S$ 1 = Rp. 7.000,-).
– Mendirikan Kantor Cabang Surabaya (7 ruko) senilai 10,5 milyar rupiah.
– Mendirikan Kantor Cabang Batam (5 ruko).
– Mendirikan Kantor Cabang Semarang.
– Mendirikan Kantor Cabang Bandar Lampung.
– Mendirikan Kantor Cabang Makasar.
– Mendirikan kantor Cabang Medan.
– Mendirikan perusahaan ekspedisi, tour-travel, kertas, trading import-export, restoran dan kafe, supermarket, properti, dll.
– Membuka kantor cabang di luar negeri seperti Singapore dan Malaysia.
– Total aset mencapai ratusan milyar rupiah.

UFO berkambang menjadi salah satu perusahaan Penjualan Langsung yang dipercaya. Jumlah member setiap bulan selalu meningkat. Kepercayaan yang tinggi itu, tiba-tiba telah dinodai oleh segilintir orang. Pada tahun 2005, terjadi penyalahgunaan dan penipuan usaha yang dilakukan Mitra Bisnis Perusahaan. Mereka menipu masyarakat umum dengan membawa nama Perusahaan, sehingga rusaklah nama baik Perusahaan. Hilanglah kepercayaan masyarakat. Penjualan Perusahaan menukik tajam. Omset turun hingga kurang dari 10% dari omset tertinggi yang pernah diraih. Kerugian mencapai milyaran rupiah setiap bulan. Termasuk kerugian investasi di luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. Semua aset dan properti dijual untuk mempertahankan Perusahaan agar bisa tetap beroperasi.

Tahun 2009, Maestro Fico memutuskan untuk kembali ke gelanggang, menyelamatkan perusahaan yang semakin dalam jatuh ke ambang kematian. Maestro Fico kembali aktif di manajemen. Ia memegang kendali perusahaan. Saat itu omset Perusahaan hanya kurang dari 5% dari omset tertinggi yang pernah diraih. Perusahaan masih merugi hingga milyaran rupiah. Kerugian itu disebabkan oleh beban bunga dari kreditor dan para pemasok, yang besarnya hampir mencapai 300 juta setiap bulannya. Beban biaya gaji mencapai 800 juta rupiah per bulan, belum termasuk biaya rutin operasional perusahaan. Sedangkan omset penjualan hanya 1 milyar rupiah per bulan. Semua asset perusahaan bahkan pribadi sudah terjual. Banyak karyawan mengundurkan diri terutama di level direktur Selama 5 tahun gaji semua karyawan tidak ada kenaikan. Tunggakan gaji 3 sd 6 bulan bahkan ada yang satu tahun lebih belum dibayarkan. Puluhan fasilitas kendaraan semua di tarik dan di jual oleh perusahaan. Karyawan mendirikan serikat buruh karena mereka khawatir perusahaan tidak membayarkan pesangon jika perusahaan tutup. Mereka berkeyakinan usia perusahaan tidak akan lama. Inilah kejatuhan sang Maestro yang ke empat kalinya. Maestro Fico tetap pada keyakinannya. Ia yakin akan PERTOLONGAN TUHAN. Maestro Fico mengambil semua resiko yang sangat berbahaya buat diri sendiri dan keluarga besarnya.

Tahun 2010, Fico Kaiser melakukan strategi roadshow keliling Indonesia. Ia turun ke lapangan untuk mengajar dan memotivasi para mitra bisnisnya secara langsung. Dengan cara ini, tingkat kepercayaan para mitra bisnis kembali terpupuk. Perlahan-lahan omset perusahaan mengalami kenaikan. 2011 Setahun berikutnya, Fico Kaiser menciptakan Seminar Momentum Dahsyat (MD), yang diadakan setiap dua Minggu sekali. Fico Kaiser menjadi Pembicara Tunggal dalam Seminar MD yang berlangsung selama empat hari berturut-turut. Sejak diselenggarakannya Seminar MD—per 2 minggu sekali dan dihadiri oleh kurang lebih 2000 peserta—hasilnya dalam waktu kurang dari setahun, omset perusahaan naik lebih dari 600%. Di tahun ini pulalah Fico Kaiser, MBA mendapat julukan Maestro yang diberikan oleh KH. Najib Sungkar. Julukan ini diberikan karena Fico adalah seorang pionir, penemu sistem jaringan, dan kepiawaian serta kepemimpinannya.